Wawan Kurniawan - Kolaborasi Pertamina dan Nuraeni: Energi Kita ... - Warta 24 Sulawesi Tenggara
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Wawan Kurniawan - Kolaborasi Pertamina dan Nuraeni: Energi Kita ...

Wawan Kurniawan - Kolaborasi Pertamina dan Nuraeni: Energi Kita ...

Energi Kita Energi Pertamina Wawan Kurniawan - Kolaborasi Pertamina dan Nuraeni: Energi Kita dan Perempuan Ibu Eni juga digerakkan keresahan yang ada…

Wawan Kurniawan - Kolaborasi Pertamina dan Nuraeni: Energi Kita ...

Energi Kita Energi Pertamina

Wawan Kurniawan - Kolaborasi Pertamina dan Nuraeni: Energi Kita dan Perempuan

Ibu Eni juga digerakkan keresahan yang ada di jiwanya. Permasalahan sehari-hari yang sulit dipecahkan, konflik yang hampir setiap saat berdatangan.

Wawan Kurniawan - Kolaborasi Pertamina dan Nuraeni: Energi Kita dan PerempuanIlustrasi Pertamina

TRIBUN-TIMUR.COM - Ini adalah artikel nominasi lomba penulisan yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero) MOR VII Sulawesi kerjasama dengan Tribun Timur.

Penulis: Wawan Kurniawan

“Amazing things happen when women help other women” pesan itulah yang sempat disampaikan oleh seorang Kasia Gospos. Pesan yang kemudian membuatnya mendirikan Leaders in Heels. Sebuah ruang yang bertujuan untuk mendukung perempuan sebagai pemimpin di lingkungan sekitar. Tentu saja, pesan itu benar dan juga dibuktikan oleh Nuraeni. Beliau yang kerap disapa Ibu Eni ini, berasal dari Masyarakat Kampung Paotere, Kelurahan Patingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan. Ibu Eni sempat ingin bunuh diri.

Sepeninggal kematian suaminya, Ibu Eni harus berpikir keras untuk mencari jalan keluar untuk mengatasi kehidupannya yang pelik. Bagaimana tidak, Ibu Eni memiliki tiga orang anak yang masih kecil dan harus berjuang sendiri tanpa seorang suami. Siapa pun yang berada pada posisi Ibu Eni, tentu akan merasakan tekanan yang begitu berat. Tapi, di titik ini pulalah Ibu Eni memperlihatkan kekuatan seorang perempuan.

Beliau mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahrah. Kelompok itu mulai dengan visi yang mulia, terwujudnya kehidupan masyarakat pesisir yang mandiri dan sejahtera khususnya perempuan pesisir.

Berkenalan dengan Ibu Eni dan Cerita Tentang Keinginannya Bunuh Diri

Saya mengenal Ibu Eni dalam kegiatan Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) 2016 yang digelar di Yogyakarta, 30 Mei-1 Juni. Temu nasional itu diikuti kurang lebih 379 peserta, wakil dari lembaga masyarakat, organsiasi keagamaan, organisasi profesi, akademisi atau lembaga riset, dunia usaha, dan unsur media. Kegiatan ini diselenggarakan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Kala itu, beliau peserta sekaligus pembicara yang dengan penuh semangat berbagi pengalaman dengan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Ibu Eni sempat ingin bunuh diri lantaran tertekan dengan nasibnya yang harus menjanda. Malam itu, di tahun 2004 Ibu Eni bersama tiga orang anaknya Dinur Fahri, Haidin Nurdi dan Russil Ruski pergi ke Pantai Los ari. Ibu Eni dan ketiga orang anaknya duduk di tepi Losari hingga larut malam, saat sepi dia berniat untuk membunuh tiga orang anaknya lalu kemudian membunuh dirinya sendiri. Akan tetapi, setelah cukup lama menunggu Pantai Losari tak kunjung sepi. Akhirnya dia memutuskan pulang dan bertobat kepada Tuhan atas niatnya. Sejak malam itu, beliau berniat untuk hidup mandiri dan membangun semangatnya. Dengan semangat itulah, Ibu Eni memulai kehidupan baru sekaligus membawa istri-istri nelayan di sekitarnya belajar untuk mandiri. Usaha Ibu Eni yang awalnya hanya dimulai dari 10 istri nelayan akhirnya berkembang lebih pesat. Bersama dengan ibu-ibu itu, Nuraeni memilih untuk membuat abon ikan. Hal itu menjadi langkah pertama yang membawanya terus berkembang. Dengan modal Rp 1,5 juta, sekarang omzet abon Nuraeni sudah mencapai sekitar empat ton dalam satu bulan.

Ibu Eni juga digerakkan keresahan yang ada di jiwanya. Permasalahan sehari-hari yang sulit dipecahkan, konflik yang hampir set iap saat berdatangan. Tapi, bukan Ibu Eni namanya jika menyerah dengan keadaan rumit itu. Titik tersulit dalam hidupnya telah dilewati dan sudah saatnya dia mengajak orang lain untuk berubah. Saya masih mengingat bagaimana Ibu Eni berbagi kisah, diceritakan pula tentang usaha abon yang perlahan mampu menghidupi. Saat itu juga, Ibu Eni membawa beberapa kemasan abon yang juga ikut di jual sekaligus promosi produk. Kerja cerdas itu membuat Ibu Eni berhasil mengubah kehidupan istri-istri nelayan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semangat ibu Eni tiada henti, beliau terus bergerak dan berjuang.

Pertamina Energi Semangat Kita

Beruntungnya, usaha Ibu Eni membuahkan hasil yang luar biasa. Bantuan demi bantuan untuk usaha itu datang dari berbagai pihak. Salah satu pihak yang memberikan kontribusi positif yang luar biasa demi kemajuan langkah Ibu Eni dan sejumlah istri nelayan adalah PT. Pertamina. Sebelumnya, melalui CSR PT.Pertamina, kontribusi sosial telah dilakukan sep erti Renovasi Taman Pintar Jogjakarta, Revitalisasi Taman Pejambon Jakarta, Peningkatan infrastruktur di Bau-bau, Perbaikan saran air bersih di Sampang, Makasar, Sibayak, Balikpapan, Semarang, dan Karang Rejo serta sejumlah bentuk kepedulian sosial Pertamina yang lainnya.

Dan selanjutnya bentuk kepedulian CSR PT. Pertamina kembali dibuktikan dengan hadirnya, Home Industry & Social Care Center Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahra. Apa yang telah diberikan PT. Pertamina kiranya memberikan semangat tersendiri. Sebelumnya, Pertamina telah melakukan bantuan pembinaan pada Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahra sejak tahun 2014. Lokasi tempat itu terletak di jalan Barukang III, lorong 3 Kelurahan Pattingaloang, Kecamatan Ujungtanah, Makassar, Sulawesi Selatan. Pada akhirnya, pembinaan dan pemberdayaan semakin berkembang. Seperti pengolahan produk hasil olahan ikan yaitu abon ikan, bandeng cabut tulang, otak-otak, dan lain-lain.

Kolaborasi bersama Pertamina telah men jadikan semangat Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahra mampu berkontribusi dengan semakin aktif. Setiap bulan, Ibu Eni dan kawan-kawan juga memberikan pemeriksaan gratis terhadap lansia setiap tanggal 10 rutin dilakukan. Ada pula Sekolah Perempuan Pesisir yang para pesertanya adalah wanita korban kekerasan dalam rumah tangga. Berbagai kolaborasi terus dijalankan. Tepat pada Hari Pahlawan 10 November 2017, Pertamina kembali berbagi dengan menyerahkan 200 paket perlengkapan rumah tangga yang diserahkan langsung oleh Operation Head Terminal BBM Makassar, Bambang Soeprijono.

Dengan menganut prinsip sociopreneurship, Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Azzahra akan terus hadir untuk berbagi di sekitarnya. Mulai dari pemeriksaan kesehatan lansia, pendampingan korban KDRT, sekolah perempuan, sekolah percaya diri hingga bantuan biaya pemakaman bagi warga pesisir yang meninggal dunia. Dana untuk semua itu diperoleh dari hasil keuntungan yang didapatkan selama ini yang sengaja disisihkan . Tentu saja, kita semua berharap kolaborasi seperti ini akan terus berlanjut dan memberikan dampak yang jauh lebih luas. Setidaknya, dari Ibu Eni, kita dapat belajar banyak hal tentang jatuh dan bangkitnya hidup serta kekuatan seorang perempuan yang benar-benar berjuang. Saat ini, Ibu Eni telah meraih penghargaan nasional hingga internasional. Saya tiba-tiba berpikir, apakah kisah hidup Ibu Eni tidak dijadikan film saja? Kita nantikan kolaborasi Pertamina selanjutnya. (*)

Editor: Rasni Ikuti kami di Nikita Mirzani Beberkan Tarifnya, Begini Reaksi Pengacara Hotman Paris Sumber: Google News | Warta 24 Bau-Bau

Tidak ada komentar