Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Nur Alam Bantah Buat Perjanjian dengan Perusahaan Richorp

Posted by On 18.54

Nur Alam Bantah Buat Perjanjian dengan Perusahaan Richorp

Nur Alam Bantah Buat Perjanjian dengan Perusahaan Richorp Reporter:

Dewi Nurita

Editor:

Rina Widiastuti

Rabu, 28 Februari 2018 17:45 WIB
Gubernur Sulawesi Tenggara nonaktif Nur Alam yang menjadi terdakwa dugaan penyalahgunaan wewenang membantah membuat perjanjian dengan Richcorp International Limited saat menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa di di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, 28 Februari 2018. TEMPO/Dewi Nurita

Gubernur Sulawesi Tenggara nonaktif Nur Alam yang menjadi terdakwa dugaan penyalahgunaan wewenang membantah membuat perjanjian dengan Richcorp International Limited saat menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa di di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, 28 Februari 2018. TEMPO/Dewi Nurita

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Sulawesi Tenggara nonaktif Nur Alam yang menjadi terdakwa dugaan penyalahgunaan wewenang, membantah telah membuat perjanjian dengan Richcorp International Limited, perusahaan tambang yang berbasis di Hong Kong. Jaksa KPK menengarai, Richorp International mengirimkan sejumlah duit ke rekening Nur Alam.

"Saya tidak tahu Richorp, saya hanya tahu Mr.Chen," kata Nur Alam kepada jaksa KPK di persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat pada Rabu, 28 Februari 2018.

Baca: Saksi Kuatkan Dugaan Korupsi Nur Alam Merusak Lingkungan< /p>

Dalam perkara itu, Gubernur Nur Alam terindikasi menerima aliran dana dari luar negeri. Ia diduga menerima duit US$ 4,5 juta atau sekitar Rp 60 miliar dari seorang pengusaha tambang bernama Mr.Chen. Pria asal Taiwan ini disebut memiliki hubungan bisnis dengan PT Billy Indonesia, perusahaan tambang yang beroperasi di Sulawesi Tenggara.

Seperti dikutip dari majalah Tempo edisi 14 September 2014 dengan judul 'Putar-putar Duit Nikel', seorang penegak hukum merinci aliran uang yang ditengarai diterima Nur Alam. Bukan dikirim oleh Mr Chen, melainkan oleh Richcorp International Limited, perusahaan yang berbasis di Hong Kong.

Namun Nur Alam membantah hal tersebut. Menurut pengakuannya, Mr. Chen yang merupakan warga negara asing itu adalah sahabat yang dipercayainya.

"Anda tidak tahu Richorp International?" tanya jaksa KPK kepada Nur Alam.

"Tidak tahu," jawab Nur Alam.

"Tapi faktanya, ada perjanjian antara An da dengan Richorp International!" kata Jaksa dengan nada tinggi.

"Tidak ada, saya hanya membuat perjanjian dengan Mr. Chen dan karena saya memiliki hubungan pribadi dengan beliau, maka perjanjian kami bersifat pribadi," jawab Nur Alam.

Baca: Kasus Nur Alam, Tambang Merusak Lingkungan Hingga Cacat Prosedur

Namun, ketika ditanya jaksa terkait isi perjanjiannya dengan Mr.Chen, Nur Alam mengaku tidak melihat dengan jelas apa isi perjanjian mereka. "Saya tidak perhatikan," kata Nur Alam.

Seperti dikutip Majalah Tempo, pada 2010, sejak September hingga November, Richcorp empat kali mentransfer uang ke PT AXA Mandiri dengan nilai total US$ 4,5 juta lewat Chinatrust Bank Commercial Hong Kong. Rinciannya 15 September 2010 US$ 500 ribu, 22 September 2010 US$ 1 juta, 18 Oktober 2010 US$ 1 juta dan 29 November 2010 US$ 2 juta.

Oleh AXA, uang itu ditempatkan dalam tiga polis asuransi atas nama Gubernur Nur Alam seni lai Rp 30 miliar. Pada formulir pengiriman uang, tertulis "untuk pembayaran asuransi". Ini menandakan Richcorp diperintahkan seseorang di Indonesia mengirimkan dana. Sisa dana, sekitar Rp 10 miliar, ditransfer AXA ke rekening Nur Alam di Bank Mandiri.

Richcorp International diketahui bergerak di bisnis tambang. Perusahaan ini sering membeli nikel dari PT Billy Indonesia. Di Sulawesi Tenggara, PT Billy membuka tambang di Konawe Selatanâ€"sekitar 80 kilometer dari Kendariâ€"dan Bombana, kira-kira 160 kilometer dari ibu kota provinsi itu.

Direktur perusahaan PT Billy antara lain Widdi Aswindi, yang juga pemimpin lembaga konsultan politik Jaringan Suara Indonesia. Richcorp ternyata sudah "tutup buku". Menurut aktanya, perseroan ini lahir pada 28 April 1992 dan berakhir pada 24 Oktober 1997.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menangkap kejanggalan aliran uang tersebut dan mengirimkan analisisnya ke Kejaksaan Agung. Itulah awal Kejaksaan menyelidiki kasus Nur Alam.

Belakangan, kejaksaan diam-diam menghentikan kasus ini. Alasannya, Nur Alam sudah mengembalikan duit itu ke Richcorp. Duit dipulangkan lewat rekening seorang pengacara bernama Giofedi Rauf ke rekening Richcorp di Chinatrust Bank Commercial Hong Kong. Duit ditransfer dalam empat tahap pada Mei-Juni 2013. Totalnya sekitar Rp 40,7 miliar atau US$ 4,28 juta dengan kurs waktu itu. Namun saat ini, kasus itu kembali dikuak kembali oleh KPK di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat.

MAJALAH TEMPO

Terkait
  • G   ubernur Sultra Nur Alam Jalani Sidang Lanjutan, Ini Agendanya

    Gubernur Sultra Nur Alam Jalani Sidang Lanjutan, Ini Agendanya

    7 hari lalu
  • Saksi Kuatkan Dugaan Korupsi Nur Alam Merusak Lingkungan

    Saksi Kuatkan Dugaan Korupsi Nur Alam Merusak Lingkungan

    16 hari lalu
  • Kasus Nur Alam, Tambang Merusak Lingkungan Hingga    Cacat Prosedur

    Kasus Nur Alam, Tambang Merusak Lingkungan Hingga Cacat Prosedur

    16 hari lalu
  • Sidang Nur Alam, Saksi Ahli: Tambang Nikel AHB Rusak Lingkungan

    Sidang Nur Alam, Saksi Ahli: Tambang Nikel AHB Rusak Lingkungan

    16 hari lalu
  • Rekomendasi
  • KPK Geledah 5 Lokasi Kasus Korupsi Wali Kota Kendari dan Ayahnya

    KPK Geledah 5 Lokasi Kasus Korupsi Wali Kota Kendari dan Ayahnya

    6 jam lalu
  • Polda Jatim Tangkap Penyebar Hoax yang Terkait Family MCA

    Polda Jatim Tangkap Penyebar Hoax yang Terkait Family MCA

    19 jam lalu
  • Kepala BNN Heru Winarko Janji Akan Segalak Budi Waseso

    Kepala BNN Heru Winarko Janji Akan Segalak Budi Waseso

    23 jam lalu
  • KPK: Pengembalian Uang Korupsi Tak Hentikan Pengusutan Kasus

    KPK: Pengembalian Uang Korupsi Tak Hentikan Pengusutan Kasus

    1 hari lalu
  • Foto
  • Peringati HUT Ke-72, Ratusan Marinir Takklukan Selat Sunda

    Peringati HUT Ke-72, Ratusan Marinir Takklukan Selat Sunda

    2 jam lalu
  • Foto Hari Ini: dari Tumpukan Uang ke Pohon Tumbang

    Foto Hari Ini: dari Tumpukan Uang ke Pohon Tumbang

    10 jam lalu
  • Divonis 1,5 Tahun Penjara, Jonru Ginting Teriak Allahu Akbar

    Divonis 1,5 Tahun Penjara, Jonru Ginting Teriak Allahu Akbar

    15 jam lalu
  • Menyelusuri Sungai Citarum yang P   aling Tercemar di Dunia

    Menyelusuri Sungai Citarum yang Paling Tercemar di Dunia

    18 jam lalu
  • Video
  • IMF Mengunjungi Keraton Yogya, Ini Pesan Sultan HB X

    IMF Mengunjungi Keraton Yogya, Ini Pesan Sultan HB X

    14 jam lalu
  • Polda Riau Tangkap 4 Orang Pelaku Pembakaran Lahan

    Polda Riau Tangkap 4 Orang Pelaku Pembakaran Lahan

    23 jam lalu
  • Inilah Pentolan Penyebar Hoax yang Ditangkap Polisi

    Inilah Pentolan Penyebar Hoax yang Ditangkap Polisi

    1 hari lalu
  • Presiden Joko Widodo Melantik Heru Winarko sebagai Kepala BNN

    Presiden Joko Widodo Melantik Heru Winarko sebagai Kepala BNN

    1 hari lalu
  • terpopuler
  • 1

    Salat Jumat di Istiqlal, Jokowi: Diingatkan Bapak Imam Besar

  • 2

    Eks Dosen yang Jadi Anggota Family MCA dalam Catatan Universitas

  • 3

    Dilaporkan Fadli Zon ke Bareskrim, Ananda Sukarlan Angkat Bicara

  • 4

    Fadli Zon Laporkan Akun Ananda Sukarlan dan @makLambeTurah

  • 5

    Golkar Telah Mengajak Demokrat Dukung Jokowi di Pilpres 2019

  • Fokus
  • Cerita BNN Sita 4,71 Ton Sabu dan Tembak Mati 79 Bandar Narkoba

    Cerita BNN Sita 4,71 Ton Sabu dan Tembak Mati 79 Bandar Narkoba

  • Jurus Sandiaga Uno buat Bersih-bersih Danau Jakarta yang Tercemar

    Jurus Sandiaga Uno buat Bersih-bersih Danau Jakarta yang Tercemar

  • Jokowi Beri Sinyal Pembentukan TGPF Novel Baswedan

    Jokowi Beri Sinyal Pembentukan TGPF Novel Baswedan

  • Waduk Pluit dan Ria Rio, Pernah Membaik di Masa Jokowi-Ahok

    Waduk Pluit dan Ria Rio, Pernah Membaik di Masa Jokowi-Ahok

  • Terkini
  • Pengacara Sebut Abu Bakar Baasyir Berhak Jadi Tahanan Rumah

    Pengacara Sebut Abu Bakar Baasyir Berhak Jadi Tahanan Rumah

    1 jam lalu
  • Jurnalis TV Bacakan Deklarasi Pilkada yang Damai dan Bebas SARA

    Jurnalis TV Bacakan Deklarasi Pilkada yang Damai dan Bebas SARA

    1 jam lalu
  • Dilaporkan Fadli Zon ke Bareskrim, Ananda Sukarlan Angkat Bicara

    Dilaporkan Fadli Zon ke Bareskrim, Ananda Sukarlan Angkat Bicara

    1 jam lalu
  • Marak OTT, Polri Usulkan Penjatuhan Sanksi Sosial

    Marak OTT, Polri Usulkan Penjatuhan Sanksi Sosial

    2 jam lalu
  • Debat Pilkada, KPU Tak Bisa Beri Dispensasi Calon yang Kena OTT

    Debat Pilkada, KPU Tak Bisa Beri Dispensasi Calon yang Kena OTT

    2 jam lalu
  • Wiranto Sebut Rusia Tawarkan Banyak Alutsista ke Indonesia

    Wiranto Sebut Rusia Tawarkan Banyak Alutsista ke Indonesia

    2 jam lalu
  • Aher Membantah Pernah Jadi Pembicara Workshop Muslim Cyber Army

    Aher Membantah Pernah Jadi Pembicara Workshop Muslim Cyber Army

    3 jam lalu
  • KPK Geledah 5 Lokasi Kasus Korupsi Wali Kota Kendari dan Ayahnya

    KPK Geledah 5 Lokasi Kasus Korupsi Wali Kota Kendari dan Ayahnya

    9 jam lalu
  • Polri Disoal Kaitkan Penyelidikan Korupsi dan Kalkulasi Ekonomi

    Polri Disoal Kaitkan Penyelidikan Korupsi dan Kalkulasi Ekonomi

    10 jam lalu
  • Selengkapnya Grafis

    Tim Ferrari, dari Alberto Ascari hingga Kimi Raikonen

    Jauh sebelum Kimi Raikonen, tim Ferrari sudah berlaga di Formula 1 sejak 1950. Tim itu telah meraih berbaga i prestasi, baik driver maupun constructor.

    Sumber: Google News | Warta 24 Konawe Selatan

    Next
    « Prev Post
    Previous
    Next Post »